LANDASAN DALAM
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Disusun
Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah
PENGEMBANGAN KURIKULUM
PAI
Dosen Pengampu :
Dewi Ariyani, S.Th.I,
M.Pd.I
Disusun Oleh :
Siti Sarah
(13.03.2932)
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
DARUSSALAM
CIAMIS
2015
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Puji syukur saya panjatkan kehadirat
Allah SWT, yang telah memberikan karunia-Nya kepada
kita semua. Sholawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kejunjungan kita
semua, yaitu Nabi besar Muhammad SAW. Kepada keluarganya, para sahabatnya,
tabi’in, tabi’atnya dan sampai kepada kita selaku umatnya. Sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah Pengembangan Kurikulum PAI yang berjudul “Landasan dalam Pengembangan Kurikulum”. Dalam
penyusunan makalah ini, banyak sekali pihak terkait yang telah ikut membantu dalam
proses penyusunan makalah ini, diantaranya :
1. Dosen Pengampu Mata Kuliah: Dewi
Ariyani, S.Th.I, M.Pd.I
2.
Orang tua yang
telah memberikan dukungan moril maupun material
3.
Kerabat-kerabat
dekat yang telah memberikan berbagai masukan bermanfaat
Oleh
karena itu, saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak terkait di atas karena
telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran
penyusunan makalah ini.
Demikian
semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi saya dan para pembaca pada umumnya.
Saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Ciamis, 21 February 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………………..………………….i
DAFTAR ISI…………………………………………………………….……………………ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang………………………………………………………….……………..1
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………….……………….1
C.
Tujuan…………………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
C. Landasan
psikologis ……………………………..………………………….…..……7
D.
Landasan sosial-budaya ………………..………………………………...….…...…...9
E.
Landasan perkembangan ilmu dan teknologi ……..…..……………………..………11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan…………..……………………………………………………………….13
B.
Saran…...……………………………………………………………………………..13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kurikulum
sebagai sebuah rancangan pendidikan mempunnyai kedudukan yang sangat strategis
dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum
didalam pendidikan dan dalam perkembanagn kehidupan manusia, maka dalam
penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh
dan kuat.
Landasan
pengembangan kurikulum tidak hanya diperlukan bagi para penyusun kurikulum atau
kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal, akan
tetapi terutama harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para
pelaksana kurikulum yaitu para pengawas pendidikan dan para guru serta
pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas-tugas pengelolaan pendidikan,
sebagai bahan untuk dijadikan instrument dalam melakukan pembinaan terhadap
implementasi kurikulum disetiap jenjang pendidikan. Penyusunan
dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan
berbagai landasan yang kuat agar mampu dijadikan dasar pijakan dalam melakukan
proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat memfasilitasi tercapainya
sasaran pendidikan dan pembelajaran secara lebih efektif dan efisien.
Oleh karena itu kurikulum dalam pendidikan perlu
mempunyai perhatian yang besar baik bagi pemerintah sebagai penanggung jawab
umum atau pihak sekolah yang turun langsung mengimplementasikan kurikulum
tersebut ke peserta didik, dengan berlandaskan pada filosofis, psikologis,
sosiologis dan organisatoris serta bersifat dinamis agar tujuan pendidikan bisa tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian kurikulum dan landasan?
2.
Bagaimana landasan filosofis dalam pengembangan
kurikulum?
3.
Bagaimana landasan psikologis dalam pengembangan
kurikulum?
4.
Bagaimana landasan sosial-budaya dalam pengembangan
kurikulum?
5.
Bagaimana landasan perkembangan ilmu dan teknologi
dalam pengembangan kurikulum?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa pengertian kurikulum dan
landasan.
2.
Untuk mengetahui bagaimana landasan filosofis dalam
pengembangan kurikulum.
3.
Untuk mengetahui bagaimana landasan psikologis dalam
pengembangan kurikulum.
4.
Untuk mengetahui bagaimana landasan sosial-budaya
dalam pengembangan kurikulum.
5.
Untuk mengetahui bagaimana landasan perkembangan ilmu
dan teknologi dalam pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kurikulum dan Landasan
Kurikulum bukan
berasal dari bahasa Indonesia , tetapi berasal dari bahasa Latin yang kata
dasarnya adalah currere, secara harfiah berarti lapangan perlombaan lari. Lapangan tersebut ada
batas start dan batas finish. Namun dalam
kesehariannya banyak yang mengartikan bahwa kurikulum adalah rencana
pendidikan, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, dan yang populernya yaitu “the
of a school is all experiences that pupils have under the guadience of the school” yaitu segala
pengalaman anak di sekolah di bawah bimbingan sekolah. Definisi yang mirip
seperti itu diberikan antara lain oleh Harold Alberty, John Kerr
dan lain-lain. Jadi, kurikulum ialah suatu
program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar
yang diprogramkan, direncanakan, dan dirancang secara sistematik atas dasar
norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi
tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Adapun pengertian landasan Menurut Hornby c. s.
dalam “The anvance leaner’s dictionari of current English” mengemukakan definisi landasan sebagai berikut
:“faoundation ….
that on which an idea or belief rest an underlying principle’s as the foundations
of religious belief the basis
or starting point…”. Jadi
menurut Hornby, landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang
menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari sesuatu. Contohnya dalam agama Islam yang menjadi landasan utama umat muslim dalam
melaksanakan ibadah kepada Allah SWT adalah al-qur’an dan sunnah. Jadi,
landasan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan atau prinsip yang
bersumber dari kepercayaan dan menjadi sandaran atau pijakan untuk pengembangan
kurikulum yang dinamis.
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang
sangat signifikan, sehingga apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah
bangunan gedung atau rumah yang tidak menggunakan landasan atau pondasi yang
kuat, maka ketika diterpa angin atau terjadi goncangan yang kencang, bangunan
tersebut akan mudah roboh. Demikian pula dengan halnya kurikulum, apabila tidak
memiliki dasar pijakan yang kuat, maka kurikulum terebut akan mudah
terombang-ambing dan yang menjadi taruhannya adalah manusia sebagai peserta
didik yang dihasilkan oleh pendidik itu sendiri.
Ada beberapa landasan utama
dalam pengembangan suatu kurikulum diantaranya Robert S. zais mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum,
yaitu : Philosopy and nature of knowledge, society and culture, the
individual dan learning theory. Sedangkan S. Nasution
berpendapat dalam bukunya “ Pengembangan Kurikulum” yaitu asas
filosofis yang pada hakikatnya menentukan tujuan umum pendidikan, asas
sosiologis yang memberikan dasar untuk menentukan apa yang akan dipelajari
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam
bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun, bagaimana luas dan urutannya dan asas
psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang perkembangan anak
dalam berbagai aspek serta caranya belajar agar bahan yang disediakan dapat
dicernakan dan dikuasai oleh anak sesuai dengan taraf perkembangnnya.
B.
Landasan Filosofis
Pendidikan berintikan
interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peserta didik untuk
mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang
diinteraksikan serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang
menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan peserta didik, apa isi pendidikan
dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan
pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar,
yang esensial yaitu jawaban-jawaban filosofis. Sering
dikatakan dan sudah menjadi terkenal dalam dunia keilmuan bahwa filsafat
merupakan ibu dari segala ilmu, pada hakikatnya filsafat jugalah yang
menentukan tujuan umum pendidikan.
Filsafat pendidikan sebagai
suatu pandangan hidup bukan menjadi hiasan lidah belaka, melainkan harus meresapi
tingkah laku semua anggota masyarakat. Nilai-nilai filsafat pendidikan harus
dilaksanakan dalam perilaku sehari-hari. Hal ini menunjukan pentingnya filsafat
pendidikan sebagai landasan dalam rangka pengembangan kurikulum.
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai
tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat
atau pandangan hidup satu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus
mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut.
Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan
di suatu Negara dengan filasafat Negara yang dianutnya. Sebagai contoh, pada
waktu Indonesia dijajah oleh Belanda, maka kurikulum yang dianut pada masa itu
sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda. Demikian pula pada saat
Negara kita dijajah oleh Jepang, maka kurikulum yang dianutnya juga
berorientasi kepada kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh Jepang
tersebut. Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia
menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, maka kurikulum
pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Perumusan
tujuan pendidikan, penyususnan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan
pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan
pendidik/peserta didik juga harus sesuai dengan falsafah bangsa ini yaitu
pancasila.
Pengembangan kurikulum
membutuhkan filsafat sebagai landasan berfikir. Kajian-kajian filosofis tentang
kurikulum akan berupaya menjawab permasalahan-permasalahan sekitar bagaimana
seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan, isi atau materi pendidikan yang
bagaimana yang seharusnya disajikan kepada peserta didik, metode apa yang
seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, dan bagaimana peranan
yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik.
Jawaban atas permasalahan – permasalahan tersebut akan
sangat bergantung pada landasan filsafat mana yang digunakan sebagai asumsi
atau sebagai titik tolak pengembangan kurikulum. Landasan filsafat tertentu
beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika, epistemologi, logika,
dan aksiologi berimplikasi terhadap konsep-konsep pendidikan yang meliputi
rumusan tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, peran pendidik
dan peserta didik. Konsep metafisika berimplikasi terhadap perumusan tujuan
pendidikan terutama tujuan umum pendidikan yang rumusannya ideal dan umum,
konsep hakikat manusia berimplikasi khususnya terhadap peranan pendidik dan
peserta didik, konsep hakikat pengetahuan berimplikasi terhadap isi dan metode
pendidikan, dan konsep aksiologi berimplikasi terutama terhadap perumusan
tujuan umum pendidikan. Keberadan aliran-aliran filsafat
dalam pengembangan kurikulum di Indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan
tetapi hendaknya dipertimbangkan dan dikaji terlebih dahulu kesesuaiannya
dengan nilai-nilai falsafah hidup bangsa Indonesia, karena tidak semua konsep
aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan di
Indonesia.
Adapun cabang-cabang filsafat
khusus atau terapan, pembagiannya didasarkan pada kekhususan objeknya antara
lain: filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat ilmu, filsafat religi,
filsafat moral, dan filsafat pedidikan. Diantara aliran-aliran tersebut yaitu:
1)
Aliran Progresevisme dan Pragmatisme.
Aliran progresevisme mengakui dan berusaha mengembangkan asasnya dalam semua realita kehidupan,
dengan tujuan agar semua manusia dapat bertahan menghadapi semua tantangan
hidup. Sedangkan
menurut aliran pragmatisme, suatu keterangan itu baru dikatakan benar jika
sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar kalau sesuai
dengan kenyataannya.
2)
Aliran Esensialisme.
Aliran ini didasarkan oleh
nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Esensialisme
memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki
kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih
yang mempunyai tata yang jelas. Nilai-nilai yang dimaksud ialah yang berasal
dari kebudayaan dan falsafat yang korelatif selama empat abad belakangan, yaitu
sejak zaman renaissance, sebagai pangkal timbulnya pandangan esensialisme adat.
3)
Aliran rekonstruksionisme.
Rekonstruksionisme adalah aliran yang berusaha merombak tata susuan lama dengan membangun tata
susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Pandangan tentang epistemologi,
dan aksiologi yang menjadi dasar bagi pengembangan konsep kurikulum yaitu, dari
segi epistemologi, untuk memahami realita memerlukan asas tahu, maksudnya kita
tidak mungkin memahami realita tanpa terlebih dahulu melalui proses pengalaman
dan hubungan dengan realitas terlebih dahulu melalui penemuan ilmu pengetahuan.
Sedangkan dari segi aksiologinya, bahwa dalam proses interaksi sesama manusia
diperlukan nilai-nilai. Begitu juga
dalam hubungan manusia dengan alam semesta, prosesnya tidak mungkin dilakukan
dengan sikap netral.
4)
Aliran Eksistensialisme.
Eksistensialisme merupakan
paham yang berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas
kemauannya yang bebas/kreatif, seseorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran
itu bersifat relative, dan karenanya itu masing – masing individu bebas menetukan
mana yang benar atau salah. Eksistensialisme
menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini
mempertanyakan: Bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?
5)
Aliran Perenialisme.
Perenial berarti “abadi”,
aliran ini beranggapan bahwa beberapa gagasan telah bertahan selama
berabad-abad dan masih relevan saat ini seperti pada saat gagasan tersebut baru
ditemukan. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan
keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan
dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari.
Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran
universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih
berorientasi ke masa lalu.
C. Landasan Psikologis
Psikologi berkenaan dengan
kajian tentang tingkah laku. Sehubungan dengan penyusunan kurikulum, tingkah
laku manusia yang menjadi landasan berkenaan dengan “belajar”. Hal ini mencakup
teori-teori yang berhubungan dengan proses belajar itu sendiri, dan teori
tentang perkembangan individu yang terkait dengan perkembangan dalam melakukan
proses belajar.
Kondisi psikologis merupakan “karakteristik psiko-fisik seseorang
sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi
dengan lingkungan”. Perilaku-perilakunya merupakan manifestasi dari ciri-ciri
kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
Pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh asumsi-asumsi yang berasal dari
psikologi yang meliputi kajian tentang apa dan bagaimana perkembangan peserta
didik, serta bagaimana peserta didik belajar. Atas dasar itu terdapat dua
cabang psikologi yang sangat penting diperhatikan dan besar kaitannya
dalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi
belajar.
1)
Psikologi Perkembangan.
Menurut J.P. Chaplin Psikologi perkembangan dapat diartikan sebagai “…that
branch of psychology which studies processes of pra and post natal growth and
the maturation of behavior”. Artinya,
psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi-psikologi yang
mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran
berikut kematangan prilaku. Melalui
kajian tentang perkembangan peserta didik diharapkan pendidik dapat berjalan
sesuai dengan karkteristik peserta didik serta kemampuannya, materi atau bahan
pelajaran apa saja yang sesuai dengan umur, bakat serat kemampuan daya tangkap
peserta didik begitu juga dengan cara penyampaiannya dengan berbagai metode
yang dapat diterima dan dilihat dari sisi psikologis tiap peserta didik.
Dikenal ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu, yaitu, pendekatan
pentahapan (stage
approach), perkembangan individu berjalan melalui tahap – tahap perkembangan. Setiap
tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap
yang lainnya. Pendekatan diferensial (differential
approach) melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan. Atas dasar
perbedaan dan persamaan tersebut individu dikategorikan dalam kelompok-kelompok
yang berbeda. Seperti pengelompokan atas dasar jenis kelamin, ras, agama,
status sosial-ekonomi dan lain sebagainya. Kedua pendekatan itu berusaha untuk
menarik atau membuat generalisasi yang berlaku untuk semua individu. Dalam
kenyataannya seringkali ditemukan adanya sifat-sifat individual, yang hanya
dimiliki oleh seorang individu dan tidak dimiliki oleh yang lainnya. Pendekatan
yang berusaha melihat karakteristik individu-individu inilah yang dikelompokan
sebagai pendekatan isaptif (ipsative
approach).
Banyak ilmuan yang mengadakan
penelitian akan tahap-tahap perkembangan manusia dari segi psikologinya,
diantaranya ialah Roussea yang membagi seluruh masa perkembangan anak atas empat tahap perkembangan.
|
Tahap
|
Usia
|
Keterangan
|
|
I (infacy)
|
0-2 th
|
Tahap perkembangan fisik
|
|
II (childhood)
|
2-12 th
|
Perkembangan manusia primitive
|
|
III (pubescence)
|
12-15 th
|
Perkembangan intelektual dan kemampuan nalar
|
|
IV (adolescence)
|
15-25 th
|
Masa hidup sebagai manusia yang beradab, pertumbuhan
seksual, social, moral, dan kata hati
|
Tahap perkembangan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum sebaiknya
bersifat efektif, artinya tidak terpaku pada satu pendapat tentang tahapan
saja, tetapi bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai
hubungan yang sangat erat.
2) Psikologi Belajar.
Psikologi belajar merupakan studi
tentang bagaimana individu belajar, yang secara sederhana dapat diartikan
sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan
tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik
terjadi karena proses pengalaman yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai
perilaku belajar.
Menurut P. Hunt, ada tiga keluarga atau rumpunan teori belajar yang
dibahas dalam psikologi belajar, yaitu:
a) Teori disiplin mental.
Menurut teori ini bahwa dari sejak
kelahirannya atau secara herediter, seorang anak telah memiliki potensi-potensi
tertentu. Menurut teori ini belajar adalah merupakan upaya untuk mengembangkan
potensi-potensi tersebut.
b) Teori behaviorisme.
Teori ini berpijak pada sebuah
asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau tidak membawa potensi
apa-apa dari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang
berasal dari lingkungan, seperti lingkungan sekolah, masyarakat, keluarga,
alam, budaya, religi, dan sebagainya.
c) Teori kognitif gestald field.
Menurut teori ini, belajar adalah
proses pengembangan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama.
Pemahaman tersebut terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam
menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan, termasuk struktur tubuhnya
sendiri. Gestalt
Field melihat bahwa belajar, merupakan perbuatan yang bertujuan, eksploratif,
imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra dari perasaan
tentang pola-pola atau hubungan.
D. Landasan Sosial-Budaya.
Pendidikan memegang peranan
penting dalam proses pembudayaan, sosialisasi, bahkan rekontruksi sosial.
Meskipun seringkali kita menemui kesulitan dalam menentukan bentuk-bentuk
kebudayaan mana yang patut dilestarikan, ke arah mana proses sosialisasi itu
diarahkan, dan lain-lain, namun secara umum peranan yang dimainkan oleh
pendidikan dapat dikenali secara jelas. Timbulnya kesulitan itu karena memang
tidak mudah mengkaji tuntutan masyarakat, oleh sebab adanya dinamika dan
perkembangan, sehingga tuntutannya pun bersifat dinamis dan berkembang pula.
Adanya sifat dinamis,
berkembangnya tuntutan, dan kekhasan masyarakat dalam kehidupan dan penghidupan
ini dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya adalah budaya, dan lingkungan
alami. Hal ini mengimplikasi adanya perbedaan antara sekelompok masyarakat
dengan kelompok masyarakat lain, terutama dilihat dari segi kebutuhan yang
sepatutnya dipenuhi oleh pendidikan. Oleh karena itu, agar pendidikan dapat
memberikan bekal yang berarti bagi masyarakat, maka kurikulum yang merupakan
rencana belajar, perlu menjadikan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sebagai
salah satu landasan dalam penyusunannya.
Landasan sosiologis kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari
sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Anak-anak
berasal dari masyarakat, mendapat pendidikan baik informal, formal, maupun
nonformal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam
kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan
segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam
melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan
harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik kekayaan, dan perkembangan
masyarakat tersebut.
Menurut Daud Yusuf, terdapat tiga sumber nilai yang ada dalam
masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan, yaitu: logika, adalah
aspek pengetahuan dan penalaran, estetika berkaitan dengan aspek emosi
atau perasaan, dan etika berkaitan dengan aspek nilai atau norma-norma
yang ada dalam masyarakat. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai
yang bersumber pada logika. Sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia, maka kehidupan
manusia semakin luas, semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin
tinggi.
Daud Yusuf mendefinisikan kebudayaan sebagai segenap perwujudan
dan keseluruhan hasil pikiran (logika), kemauan (etika), serta perasaan
(estetika) manusia, dalam rangka perkembangan kepribadian manusia, perkembangan
hubungan dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhannya. Ada
faktor yang mendasari bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dalam
pengembangan kurikulum dengan pertimbangan :
a. Individu
lahir tidak berbudaya, baik hal kebiasaan, cita-cita, sikap, pengetahuan,
keterampilan, dan sebagainya. Semua itu dapat diperoleh individu melalui
interaksi dengan lingkungan budaya, keluarga, masyarakat sekitar, dan sekolah.
Oleh karena itu sekolah mempunyai tugas khusus untuk memberikan pengalaman
kepada para peserta didik dengan salah satu alat yang disebut kurikulum.
b. Kurikulum
pada dasarnya harus mengakomodasikan
aspek-aspek sosial dan budaya.
Aspek sosiologis ialah yang berkenaan dengan kondisi sosial masyarakat yang
sangat beragam, aspek budayanya yaitu kurikulum sebagai alat harus berimplikasi
untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermuatan kebudayaan yang bersifat umum seperti
: nilai-nilai, sikap-sikap, pengetahuan, dan kecakapan.
E. Laandasan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
adalah produk dari kebudayaan. Kebudayaan manusia yang terkait dengan ilmu dan
teknologi pada saat ini telah mencapai tingkatan yang sangat tinggi. Kemajuan
ilmu dan teknologi sudah hampir ketaraf yang dikatakan sebagi eksplosi
(ledakan). Bila semua hasil temuan manusia sebagai kebudayaan ini harus
disampaikan kepada anak didik dalam waktu yang terbatas di sekolah, tidaklah
mungkin semuanya dapat dilakukan. Oleh karena itu patut disampaikan kepada anak
didik di sekolah, sehingga kurikulum sekolah dapat mengantarkan anak didik
untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang paling mendasar untuk didimiliki sebagai
bekal hidup.
Kemajuan cepat dunia dalam
bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh
pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya.
Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang
memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara
kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal. Selain itu, dalam abad
pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui
belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan
keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih,
sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan
kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn)
dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang
ambigu dan antisipatif terhadap ketidak pastian. Perkembangan dalam bidang Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi
telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia.
Perkembangan IPTEK, baik
secara langsung maupun tidak langsung menuntut perkembangan pendidikan.
Pengaruh langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memberikan
isi atau materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Pengaruh tak
langsung adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi menyebabkan
perkembangan masyarakat, dan perkembangan masyarakat menimbulkan problem baru
yang menuntut pemecahan dengan pengetahuan, kemampuan, keterampilan baru yang
dikembangkan dalam pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat
mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup
manusia.
Seiring dengan perkembangan
pemikiran manusia, dewasa ini banyak dihasilkan temuan-temuan baru
dalam berbagai bidang kehidupan manusia seperti kehidupan sosial,
ekonomi, budaya, politik, dan kehidupan lainnya. Ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) bukan menjadi monopoli suatu bangsa atau kelompok
tertentu. Baik secara langsung maupun tidak langsung perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut berpengaruh pula terhadap
pendidikan. Perkembangan teknologi industri mempunyai hubungan timbal-balik
dengan pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagai macam
alat-alat dan bahan yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan dalam
pendidikan dan sekaligus menuntut sumber daya manusia yang handal untuk
mengaplikasikannya.
Kegiatan pendidikan
membutuhkan dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri seperti televisi,
radio, video, komputer, dan peralatan lainnya. Penggunaan alat-alat yang
dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, apalagi disaat
perkembangan produk teknologi komunikasi yang semakin canggih, menuntut
pengetahuan dan keterampilan serta kecakapan yang memadai dari
para guru dan pelaksana program pendidikan lainnya. Mengingat
pendidikan merupakan upaya menyiapkan siswa menghadapi masa depan dan perubahan
masyarakat yang semakin pesat termasuk di dalamnya perubahan ilmu pengetahuan
dan teknologi, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan pada ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi secara langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang
didalamnya mencakup pengembangan isi/materi pendidikan, penggunaan strategi dan
media pembelajaran, serta penggunaan system evaluasi. Secara tidak langsung
menuntut dunia pendidikan untuk dapat membekali peserta didik agar memiliki
kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Selain itu perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengertian Kurikulum bukan berasal dari bahasa Indonesia , tetapi berasal dari bahasa Latin yang
kata dasarnya adalah currere, secara harfiah berarti lapangan perlombaan lari. Lapangan tersebut ada
batas start dan batas finish. Adapun menurut Hornby, landasan
adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip
yang mendasari sesuatu. Contohnya dalam agama islam yang menjadi landasan utama
umat muslim dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT adalah al-qur’an dan
sunnah. Jadi, landasan kurikulum dapat diartikan
sebagai suatu gagasan atau prinsip yang bersumber dari kepercayaan dan menjadi
sandaran atau pijakan untuk pengembangan kurikulum yang dinamis.
Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu
kurikulum diantaranya Robert S. zais
mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum, yaitu : Philosopy
and nature of knowledge, society and culture, the
individual dan learning theory. Sedangkan S. Nasution
berpendapat dalam bukunya “ Pengembangan Kurikulum” yaitu asas
filosofis yang pada hakikatnya menentukan tujuan umum pendidikan, asas
sosiologis yang memberikan dasar untuk menentukan apa yang akan dipelajari
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, asas organisatoris yang memberikan dasar-dasar dalam
bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun, bagaimana luas dan urutannya dan
asas psikologis yang memberikan prinsip-prinsip tentang perkembangan anak
dalam berbagai aspek serta caranya belajar agar bahan yang disediakan dapat
dicernakan dan dikuasai oleh anak sesuai dengan taraf perkembangnnya.
B.
Saran
Syukur
Alhamdulillah penulis ucapkan kepada allah swt, karena dengan kehendaknya
penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Tetapi penulis meminta kritik dan
saran dari semua orang yang membaca makalah ini, agar menjadi pembelajaran
untuk penulis di kemudian hari. Agar
terciptanya makalah yang lebih baik. Amien.
DAFTAR
PUSTAKA
Dr. Oemar Hamalik, 2007, Kurikulum dan
Pembelajaran, Jakarta, PT. Bumi Aksara
Drs. H. Mohammad Ali, 2004, Pengembangan
Kurikulum di Sekolah, Bandung, Sinar Baru
Prof. Drs. H. Dakir, 2010, Perencanaan dan
Pengembangan Kurikulum, Jakarta, PT. Rineka Cipta
Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2010, Pengembangan
Kurikulum, Bandung, PT. Remajs Rosdakarya
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar